Malang, 02 Maret 2013
Pertama arti nikah menurut saya adalah bersatunya dua manusia di hadapan Tuhan dan disaksikan oleh malaikat. Dua manusia dengan dua pemikiran, dua latarbelakang, dua keluarga, dua sifat yang menyatu atas dasar cinta dan tentu saja sebagaian dari ibadah sunnah dengan tali komitmen untuk tetap bersatu apapun yang terjadi dikemudian hari hingga Tuhan berkata waktunya telah selesai. Sedangkan, nikah muda berarti, melakukannya dikala usia masih muda. Tapi usia disini mengalami beberapa opini, ada yang bilang 25taun (untuk perempuan) (masih) disebut nikah muda. Tapi muda dilain sudut pandang bukan hanya dilihat dari sisi umur aja, kok. Ada yang bilang, 20taun kalau pasangannya sama-sama sudah siap yah silahkan saja, tapi zaman sekarang cenderung meragukan jika nikah pada usia muda akan langgeng hingga ajal tiba memisahkan.
Percaya gak percaya, nikah muda adalah impian saya sejak duduk dibangku sekolah dasar. Entah anak SD mana yang sudah mendamba pernikahannya akan terjadi di usia kurang 25tahun selain saya ? Semoga saja ada, sehingga saya tidak sendirian :p
Yang terlintas dibenak saya ketika itu adalah bagaimana saya sudah dapat membentuk keluarga kecil, membawa anak ke tongkrongan dan masih tetap bisa bercanda tawa dengan teman-teman. Yah itu saja yang saya bayangkan, yang bahagianya saja.
Sejalan dengan berlalunya waktu, impian nikah muda semakin memuncak, ini diawali ketika saya bertemu dengan salah satu wanita yang sangat menginspirasi saya dan juga mimpi-mimpi saya, Annisa Rahmi atau yang saya biasa panggil dengan Ka Ninis.
“Kalau udah sevisi, semisi, satu cara pandang dan yakin, nikah aja. Ngapain pacaran segala”, ucap beliau pada malam itu yang sampai detik masih terngiang di memori otak saya. Pernah suatu hari saya melihat beliau, membawa serta jagoan kecilnya dalam acara pertemuan #MSS, dalam satu kegiatan beliau mengerjakan dua profesi, sebagai ibunda dan juga wanita karier dan tak jauh darinya ada sosok suami yang mendampingi. Saya diam-diam memperhatikan dari jauh, senyumnya terbang mengembang, senyum yang saya dambakan dari belasan tahun yang lalu.
Pernikahan yang dijalaninya di usia muda,sepertinya tidak merenggut apapun dari hidup seorang wanita yang juga menggunakan hijab ini. Iya, seperti orang diluaran sana mengatakan jika kita menikah muda, maka kita akan kehilangan masa muda. Ah bohong sekali, saya tidak melihat itu dari sosok wanita yang saya kagumi ini.
Singkat cerita, Alhamdullilah , melalui celetukan Ka Ninis dan suami ( Bang Rhendy ) sayapun merasakan menjalin sebuah hubungan dengan pria yang memiliki visi, misi dan cara pandang yang sama. Satu anak tangga yang sama seperti beliau telah saya lalui, memiliki pasangan sevisi, misi dan cara pandang yang sama. Jika bukan karna tiga hal yang sama itu, mungkin ketika sang pacar mengajak untuk menjalin hubungan ke arah yang serius, saya akan menolaknya. Dan point kedua, keyakinan. Saya dari dulu memang ingin menikah muda, namun ingin dan yakin berbeda. Keyakinan itu timbul dengan sendirinya. Pasangan saya yang sekarang, tak pernah letih meyakinkan bahwa saya pasti akan menikah muda, dengan atau tanpa dia, walau dalam hati kecil saya, dia-lah yang akan duduk di sebelah saya kemudian dengan lantang mengucapkan ijab-qabul dalam satu hela nafas di depan ayah saya, suatu hari nanti.
Menulis masih dengan membayangkan keluarga kecil yang dimiliki Ka Ninis. Jagoan cilik, bidadari cantik serta suami yang baik. Satu buah kapal sederhana yang bergelimang kebahagiaan, walau saya yakin, tak semudah itu membangun dan mencapai kebahagian seperti yang beliau rasakan saat ini. Hantaman ombak, surut pasang gelombang, angin badai, karang, pasti akan menimpa kapal kecil itu. Kapal tersebut akan selamat dengan satu komando dari sang khalifah dan juga kekompakan anggota keluarga lainnya. Saya yakin, senyum yang Ka Ninis ukir ketika bermain dengan jagoan ciliknya adalah hasil dari proses panjang. Tapi, jika beliau saja bisa, mengapa saya tidak, right ?
Sosok lain yang tak kalah menguatkan keinginan menikah muda adalah ibunda saya sendiri. Ibunda saya menikah pada usia 20tahun dan ayah saya 25 tahun. Pasangan muda. Ibu saya, mengatakan hal yang sama seperti apa yang Ka Ninis pernah ucapkan. Dari dua sosok wanita yang sangat menginspirasi mimpi kecil saya, sayapun mendapati pelajaran yang tersirat, ialah bagaimana menjadi sosok wanita yang selalu mendampingi pasangan dalam kondisi seekstrim apapupun. Bagaimana menjadi wanita yang lebih tangguh dari prianya, karna harus mendukung apapun dan dalam kondisi bagimanapun. Bagaimana menjadi kaki yang kuat ketika sang pria tak mampu lagi melangkah. Bagaimana menjadi wanita yang dapat melakukan berbagai profesi dalam satu waktu. Dan bagaimana menjadi sosok wanita hebat dibalik keluarbiasaan sang pria. Saya mempelajarinya dan menyimpan baik-baik semua ilmu ini, karna kelak pasti akan bermanfaat untuk saya pribadi.
Niat saya menikah muda juga tak bertepuk sebelah tangan. Alhamdullilahnya, karna saya memiliki pasangan yang satu visi, misi dan cara pandang, menyegerakan niat ini lebih mudah. Sekarang yang saya harus lakukan (juga pasangan) adalah memantaskan diri masing-masing agar Allah SWT-pun meridhai niat baik kami dan segera menjadikannya nyata.
Overall, nikah muda menyelamatkan kita dari segala bentuk perzinahan lebih dalam. Dan tentu saja, memartabatkan wanita seutuhnya loh, Girls.
Sekian dan terima tawaran gratis untuk gedung resepsi ^^
With love,
AT <3